Tajuk Yang Tak Pernah Usai – Episode Kalijaga

Bismi..
Wayah purnama merah, [yang] gemetar dibalut darah..
Astagh.. kepadaNYA

… … …
den kalijogo terpekur hampir tersungkur, pada wayah yang meluncur.. persiapan menghadapi yang hancur.. hingga guntur terdengar luntur. Kemendung menjadi saksi.. Kemendung daulatkan bentuk sesaji..

Den kalijogo duduk sendiri memikirkan hakekat bentuk, dan bentuk itu sendiri. Pada maqom kemendung, setengah mendung.. bentuk relung.. menyendiri selayak gunung, betapa wajah yang seraut bingung.. dia terpekur, nyaris tersungkur.. betapa serenade kegelapan telah membuat makar yang jujur.. bentuk sederhana pun hancur..

Dikejauhan, kyai giri dan koh bonang nampak dengan sangat.. mereka berjalan beriringan selayak sepasang kerabat.. bertukar kalam dengan rapat, betapa tapak dan kata mereka begitu berat namun juga ringan dengan bentuk yang dekat.. semakin dekat, dan den kalijogo tidak menyadarinya. Dia begitu asyik bercanda dengan alam bawah sadarnya..

“kali..” sapa kyai giri. “woi, kalijogo..” koh bonang meneruskan. Den kalijogo masih mematung dengan rapinya. Tidak sadar, koh bonang menimpuk kepala den kalijogo dengan buah gedhang setundun. “tlepuk..” suara timpukan yang pelan dan menggugah bentuk yang lain. Den kalijogo tersadar dan meringis kesakitan. Tetapi dengan wajah kelaparan dan begitu anggunnya dia menoleh kepada kedua gurunya ini dengan tanpa basa-basi.. “gedhongnya, eh.. gedhangnya aku makan poro njheng guru sekalian, habis perut dah keroncongan dari tadi” katanya ringkas.

“waduh, kyai giri.. sikali koq jadi begini.. piye iki?!” koh bonang berkata, “gara-gara siapa coba?!” ucap kyai giri cepat, sambil ganti menimpuk koh bonang dengan sebuah bakiak. “glodak..” suara timpukan yang terdengar merdu tapi menyakitkan itu mengagetkan den kalijogo yang sedang makan gedhong, eh.. gedhang dengan cueknya itu. “lho? kena timpuk juga toh?” ucapnya ringan. “gara-gara siapa coba?!” balas koh bonang sambil menimpuk den kalijogo sekali lagi dengan bakiak milik kyai giri. “koh bonang aneh! Menjawab sebuah pertanyaan dengan sebuah pertanyaan pula.. lagipula diiringi dengan intermezzo timpukan segala..” ratap den kalijogo.

“memangnya kenapa? Apakah perkataanku padamu menjadi sesuatu yang tidak adil? Ataukah karena timpukanku yang mengandung unsur? Tanya koh bonang. ‘sudah-sudah.. jangan diteruskan.. koh bonang, tujuan kita kemari bukan untuk pelajaran kata berkait.. pun juga pelajaran timpuk-menimpuk.. kita disini untuk memberi, pun juga untuk den kalijogo yang menyendiri” kyai giri berkata. “waduh, lupa.. ma’afkan kalo keterusan” ujar koh bonang.

“kali? Sudah berapa lama kau menyendiri? Apakah yang terjadi? Tanya kyai giri. “kalijogo? Sumonggo! Katakan saja dengan legowo” ucap koh bonang. “tidak ada apa-apa” ucap den kalijogo datar. “seperti biasanya, dia pasti akan berkata demikian kyai giri..” koh bonang berkata. “itu tugasmu agar dia bisa berkata sebenarnya nang!” ujar kyai giri cepat. “waduh, lha koq ayas lagi yang ketiban sampur..” ucap koh bonang kesal. “ingin kena timpuk lagi?” tanya kyai giri. Dengan tenang dan refleks yang sudah terasah, koh bonang segera menimpuk den kalijogo. “aduh.. yang ditanya kan koh bonang, kenapa jawabannya dengan menimpuk diriku? Den kalijogo bersungut-sungut. “ingin kena timpuk lagi? Kalo tidak cepat ngomong alasan dirimu itu menyendiri hingga seperti ini” ujar koh bonang dengan riang, kapan lagi bisa nimpuk orang dengan tenang bathin koh bonang. Spontan den kalijogo berkata.. “aku hanya ingin menggenapkan diri, sekedar menyusupkan bara api kedalam hati..”. “apakah itu semua karena pertemuanmu dengan syech begal pati di guo pecat nyowo hai jogo?” tanya koh bonang.

Den kalijogo terdiam dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Dia menatap kyai giri dan koh bonang secara bergantian seakan meminta bentuk pelajaran, dari murid kepada sang guru. Kyai giri berkata “berbicara itu ibarat sungai yang mengalir, jika tak kau jogo alirnya.. maka hanya akan ada banjir yang merugikan”. “koh bonang melanjutkan katanya “wahai kali, tutur katamu seperti orang dewasa.. tetapi bathinmu menangis.. pada bentuk hidup.. pada bentuk mati.. akan kelanggengan.. akan keberlangsungan.. jiwa dalam setiap wadah adalah kekal adanya.. perubahan yang menapak pasti, tak perlu kau tangisi..”

Kyai giri pun menyahut “suka pun juga duka.. dapat menuju sesat.. prasasat yang sesaat.. tentang hubungan, diluar wadah.. intimidasi terhadap ketidaklanggengan alam yang naftsi..”. koh bonang melanjutkan katanya.. temukan yang haq pada perasaan dan perjalanan.. abadi, langgeng tiada mati.. yang ada diluar dan sesungguhnya tiada.. jangan katakan pisau yang memotong, tapi Dialah Yang Memotong.. agar kau temukan, satu yang selalu.. yang terlepas dari bentuk haru, bukan biru bukan ungu.. bukan pada suka, bukan pula pada duka.. rasa gelisah.. amarah.. dalam dirimu, dalam diriku.. merdeka, itu saja yang tersisa..”

“kebenaran itu selayak alam semesta yang utuh.. nyala api, tetes air.. pun juga sepoi angin yang mendesir.. jangan hanya dengan mata biasa.. keberadaan, ketiadaan.. bentuk perubahan.. betapa jiwa itu adalah tunggal.. sebuah perputaran yang kekal” kata kyai giri. “janganlah memikirkan, bentuk kemenangan ataupun kekalahan.. kebajikan, pun juga kebatilan.. arahkan saja semuanya kedepan.. luruskan arahmu.. tunaikan dharmamu.. pasti kan bertemu..” terang koh bonang. “jangan biarkan, pikiran melacur tiada keruan. Tentukan jalan dengan keteguhan dan pembulatan. Jangan kau risaukan, bebaskan pikiran.. ikuti suara hatimu.. nuranimu..” terang kyai giri. “bebaskan segala keinginan, dengarkan penjelasan hati yang bersuara.. itulah pencerahan!” koh bonang mengendapkan.

“pengalaman duka terlampaui seketika.. tiada kecewa.. betapa diri yang paripurna.. senantiasa sadar akan jati diri nya sepenuhnya. Panca indera penuh keterlibatan muncul keinginan penuh kerinduan, bedakan tindakan junjung keseimbangan gapai kesadaran. Jiwa yang damai kebahagiaan Yang Kekal Sejati. Pengendalian diri penyatuan kembali Sang Illahi Robbi”. Kyai giri dan koh bonang kompak berkata penuh kebersamaan.

Den kalijogo termenung, selayak mendung yang menghias gunung. Begitu indah dengan noktah pada wadah. Tiada lagi merah.. tiada lagi gundah.. setidaknya purnama walau tiada sempurna..

—————–

Karya : Aji Hakim Pangerapan

Muchas gracias, bruder! ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s