Tajuk Yang Tak Pernah Usai – Episode Koh Bonang

untukmu kawan.. pengorbanan [ide] kita berdua.. :Hug:

Bismi..
mei nangis dan we isak
Astagh.. kepadaNYA
teruntuk mbangil yang mengajak
… … …

ranah soerabadja mendadak rona sebegitunya, aliran waktu kembali sapa. menelanjangi makna kata-kata. sepintas canda tawa, tak ubahnya teki-teki jiwa. seperti menelaah kalam dari penggalan kisah lama. benar-benar sebuah tanya dari seorang dia.

dia itulah vega, dari gugusan cahaya lyra

penghujung tahun menghantarkan dua puluh lima untuk menegakkan mata. dua kali tiga ribu enam ratus detik berswara. diselingi canda, sederetan tawa.. tak ubahnya roman para muda. mengumpulkan segala jejak untuk bertandang di kediaman [sang] bijak.

boning berdenting disekitaran bonang. mengajaknya hening lalu pasang. sebuah langkah yang salah, atau malah tanda dari jiwa yang serah.. setidaknya koh bonang berlalu lalang dan kembali mempercayakan kakinya tuk berhenti jarang. hingga sampailah ia di pinggiran kali. dekat ceruk batu yang ‘tlah lama menanti. seorang bonang pun bersandar, sekedar melepas minat dari pandang mata yang nanar. tak disangka tak dinyana, datanglah beberapa kata yang berwujud seorang dia. mengucap salam lembut pertanda ingin dekat dengan halus sapanya.

“uhuk-uhuk.. ehem-ehem..” dianya meluncurkan kalam pembuka diiringi sahutan salam dari seorang bonang. “he’em, atau iyah..” benar-benar tanda bingung yang terselubung. mereka berdua makin khidmat, dengan jarak dan ruang kosong yang cukup. berhadapan, bersebelahan.. lirikan mata dan keteraturan nafas berbaur melewat ujung simpul indera mereka berdua. tiga ratus enam puluh derajat yang sebegitunya. bukan pada beda, atau menyatukannya. tetapi lebih kepada tabrakan makna dari dua seberang.. dia yang utara dan seorang yang membonang!

“uhuk-uhuk.. ehem-ehem..” katanya mudah untuk yang pertama. “he’em, atau iyah..” dari hadapan melanjutkannya. ba’da maghrib mengawali, lingsir tahajjud pun dipungkasi. sketsa lusuh, hingga dua pasang mata bercucur bergantian. dilengkapi titik dan koma. pasukan tanya menyerbu menggenapkan ruas-ruas makna yang mengembara.

fatehahku dan fatehahmu.. bertemu..

degup langkah pertama, atau ungkapan kata yang mewakili isi hati. dia begitu rapat berswara, disekitaran cuping telinga hingga lembah gunung lapisan kulit. dua ratus ribu dengan angka nol yang cantik. seorang bonang kembali lari mengikuti. tak hendak lepas walau berganti. sebagaimana dia yang turut menukar adatnya. “aku ini murtadz.. atau setidaknya kafir dalam artian jamak” kata dia. “setidaknya percaya, bukankah mbangil masih memanggil?” bonang coba berkata tenang. “aku benar-benar tidak tahu suatu apa” jelasnya. “bukankah masih ada tanya, dan sambung-menyambung kata?” sambung-menyambung kata tiada jemu dikawedarkan silih berganti diselingi isap kepul waktu bergulung.

“uhuk-uhuk.. ehem-ehem..” dia kembali mencuri tanya dengan kembang. “tawassul wujud” jawab sang bonang. dan lalu, waktu kembali goyang. menerobos makian lingsir yang lengang. kembali beradu melewat kata jamak dan tanya yang marak. seakan diam adalah macan yang mengancam. dua pasang berikat kencang. saling silang selang seling.

dan dia, bukan nya.. tapi kita..

“mari berhenti, jangan teruskan lagi..” dia berucap di suatu tengah malam. apa daya, lelaki ini.. hanya meletakkan jemarinya menutup telinga. bergerak teratur dengan berlalu lalang sekedar mengusap perih agar tak merintih. “tenanglah..” dan cukup satu kata dari sudut bonang. “bukan untuk henti, tapi untuk sampai. adil, diawal dan diakhir. walau semisal tangis, anggap saja itu gerimis. harapan harus tetap ada untuk panduan. tujuh tanjakan jauhnya, digerus kekekalan semesta. kita ini nun dan ba’ yang mendamba alief..” sebuah kalimat utuh, setelah satu kata penuh peluh.

kiranya aku dan dia berjalan
sepasang serigala dan harimau berdampingan..

angin kembali menyusupkan diri pada setiap lamunan benak. mengikatkan diri pada rongga-rongga beku dalam dada. seketika sentuh dan mengikut naik bersama darah. berbagi tempat, hingga titik nol dan tiga ratus enam puluh derajat kian rapat! mereka.. berdua! karena saat kesendirian ‘tlah membutuhkan kesempurnaan. jiwa.. raga.. setidaknya purnama walau tak sempurna.

“uhuk-uhuk.. ehem-ehem.. bolehkah aku menangis?” dia bertanya. “diriku paling tak suka melihat ia dan atau nya menangis, karena hanya akan menambah rasa sesak dalam dada. tapi tangismu berbeda, entahlah. diriku menjadi ingin menenangkanmu, berada disisimu. dan seandainya dekapanku bisa membuat tangismu berhenti.. aku pasti melakukannya!” dihadapannya berkata. “jadi boleh?” tanya dia sekali lagi. “carilah Dia.. Nya.. pada orang yang menangis hatinya..” sosok diseberang melempar kata untuk menyempurnakan tanya. dari mula kata, sepasang rima.. entah apalagi bentuk yang ada. sepasang dua kembali melewatkan hilir mudik waktu dengan segala cakap, melompat-lompat.. menyimak, merapat.. tak ada yang terlewat dari tiga lingsir purnama yang ada.

“di kemudian hari, yang akan datang.. aku gariskan segalanya disini. tentang sepoi angin hingga riuh badai” ucap dia. “tentu saja, soerabadja jelas-jelas menunggunya. susunlah sedemikian rupa. kerana aku menyadarinya” sembari mengiyakan, bonang tersenyum simpul dengan garang. laksana macan, buas dengan anggunnya. “tapi, tapi..” dia berkata. “makna itu, ada disetiap cerita. menunggu dengan sadar walau sedikit sabar hingga akhir. titik, koma atau seru tak mengapa” bonang kembali menyerang. bahkan dengan jawaban yang mendahului pertanyaan. miris memang, memang miris.. karena dia.. begitu rapuh dengan tanya. sedang bonang kian liar berjalan. memenuhi kiri-kanan dan mengulurkan ribuan jawaban. perbedaan dan persamaan.. selayak m dan n. berdampingan..

menggigit swara dan mengikatnya..

bunga tanjung ditepian lengang, menyatu dengan wangi dupa tengah malam. bergumul rapat, sambil sesekali membasuh kotor dari riak perjalanan. dari peluh, hingga hembus nafas. swara yang keluar hanya takjub dan mengikut panas di sekujur tubuh. pembelajaran penyempurnaan. tawassul wujud yang menggerus paradigma umum ditengah jamaknya pemahaman. betapa sepasang dua kembali tegak dengan nuansa baja dari sejarah lama.

“uhuk-uhuk.. ehem-ehem.. selanjutnya bagaimana?” tanya dia. “ini masih tanjakan dua, masih kurang lima. belum lagi yang utama! jelas bonang. “semestinya ken tujuh..” protesnya. “tujuh itu awalan, ditambah satu akhiran. biar bisa khatam, tidak berhenti di lulus saja. karena sampai itu mencakup pemahaman hubungan kesemestaan. tujuh lapis jiwa dan raga. dan kemudian tujuh lapis bhumi dan langit. belum lagi alief ingkang semar.. samar maksudnya.. tenanglah.. walau tak dekat, kita ini rapat!” bonang kembali mengurai makna.

sepasang dua, kian genap mengurai kata. hingga rona sedemikian hingga. menyempurnakan waktu, karena yang sebenarnya adalah satu. menggubah makna dan menyerapnya. sisa-sisa jagad raya menjadi semesta tak terhingga. pertanyaan dan jawaban. oktober dan november. bukan pada rabu yang mengharu, atau pula kamis yang menangis. tetapi lebih kepada doa.. menyampaikan segalanya, di buritan altar sang dewa. tepat disamping valhalla..

[masih] bersambung.. semoga..


untukmu, ibu guru hatiku.. aku cuma mau kamu.. .

*
teruntuk yang menunggu, kado ultah yang dijadikan satu.. :axehead:

:ImNotWorthy:

pangestu

————————————————————————

Darinya yang tersayang, kamasku Aji Hakim Pangerapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s