Le Daddy – Be a Good One

Lagi bengong seorang diri di dini hari yang sepi dan bikin masuk angin, mending ngisi blog aja deh via  apps. Orait! First of all, I would like to say : Happy April! Let’s make it count, ok?😀

Lagi pengen ngobrol soal ayah. Not my Dad, tapi ayah secara umum. Mendadak pengen nulis ini karena beberapa waktu yang lalu sempat ngobrol ma beberapa orang berkaitan dengan hal tersebut. Waktu itu saya nanyak ama mereka, “Menurutmu, lebih baik mana, punya ayah yang tidak peduli keluarga atau ga punya ayah sama sekali?”

Menarik, karena ternyata mostly jawabannya “mending ga punya ayah sama sekali”! Tapi kebetulan saya nanyaknya sama mereka yang merasa diabaikan atau dikecewakan oleh ayahnya di masa pertumbuhannya. Gak fair ya? Hahaha… Pengen juga sih nanyak ama yg gak punya ayah sedari kecil (bukan yang ayahnya meninggal setelah mereka dewasa). Ntar deh kapan-kapan.

Ok, back to story. Kekecewaan mereka ini kebanyakan terjadi karena ayahnya nikah lagi. Hmmm… Ternyata banyak lelaki yang belum bisa berlaku adil yang nekad poligami sehingga meninggalkan luka yang dalam tidak hanya pada istri, tetapi juga kepada anak-anak mereka. Sad but true. Saya pribadi sih gak minat perdebatkan tentang poligami, karena toh nyatanya ada juga lelaki yg poligami tapi semua anggota keluarganya happy ever after. Ada juga yg ga poligami tp tetap aja kelakuannya suka mendzalimi keluarga. Jadi ini ga ada hubungannya dengan poligami, melainkan mengenai keadilan si lelaki itu sendiri.

Selain alasan poligami yg ga adil, juga ada yang kecewa karena sang ayah nyaris gak pernah punya waktu untuk keluarga. Sibuk kerja dan kegiatan sosial. Rumah dan anggota keluarga hanya dijadikan ajang pelampiasan kekesalan yang dialami di luar sana. What da hell? Akhirnya mereka pun jadi gak peduli lagi pada sang ayah selain untuk keperluan materi saja. Berdo’a agar ayah gak mati hanya agar mereka ga perlu menjadi tulang punggung keluarga.

Sounds evil, huh? But every person has the story of their life. So we can’t judge them for what we don’t have any idea for what they have been through. Right?

Too sad ya, kalo ternyata kehadiran kita di keluarga jadinya hanya dijadikan sebagai pelengkap saja. Tidak diinginkan. Tidak dicintai. Aaaarggghhh! Saya nggak bisa ngebayangin kalo ada satu saja anggota keluarga keluarga saya yang ga ada.

Tapi memang ga ada asap kan kalo ga ada api? Kita gak bisa berharap mendapat hasil yang sempurna jika kita tidak berusaha dengan maksimal. So, for everybody in this world (not only for they who called DAD), including me of course😛 , berlaku adil lah kepada siapa saja terutama keluargamu. Sebagai ayah, suami, kepala keluarga, Anda memiliki hak dan kewajiban kepada mereka yang Anda pimpin, sebagaimana mereka pun memiliki hak dan kewajiban kepada Anda. Jangan sampai menyesal di kemudian hari ketika anak-anakmu sudah dewasa dan tidak lagi peduli akan kehadiranmu di dunia ini.

Pesan dari Metallica, and Justice For All. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.🙂

For my dearest Dad, I’m so sorry for letting you down in every bad things I’ve done. Please, forgive me for I couldn’t make you happy yet. I love you so much. That’s all I can say.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s